Hari Anak Nasional

 Contoh Paper Mengenai Hari Anak Nasional

Anak adalah Bapak masa depan. Siapapun yang berbicara tentang masa yang akan datang, harus berbicara tentang anak-anak. Menyiapkan Indonesia ke depan, tidak cukup hanya berbicara soal income per capita, pertumbuhan ekonomi, nilai investasi, atau indikator makro lainnya. Sesuatu yang paling dasar adalah, sejauh mana kondisi anak disiapkan oleh keluarga, masyarakat, dan negara.Membuat perencanaan masa depan tanpa memperhitungkan variabel anak adalah sebuah pikiran amoral dan ahistoris, karena tidak meletakkan manusia sebagai faktor determinan dalam perubahan masyarakat. Bila itu terjadi, maka dalam prosesnya akan dengan mudah melupakan faktor-faktor kepentingan anak, dan lebih untuk menuruti egoisme manusia dewasa yang berfikir hanya untuk kepentingan sesaat.

Anak-anak karena ketidakmampuan, ketergantungan dan ketidakmatangan, baik fisik, mental maupun intelektualnya perlu mendapat perlindungan, perawatan dan bimbingan dari orang tua (dewasa). Perawatan, pengasuhan dan pendidikan anak adalah kewajiban agama dan kemanusiaan yang harus dilaksanakan mulai dari orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Wajah muram

Sayangnya anak-anakIndonesiabelum semuanya bisa tertawa gembiara dan hidup dalam dengan penuh pengharapan. Sebagian dari mereka hidup dalam suasana muram, penuh tekanan, bahkan ancaman yang menurunkan derajat peradaban kemanusiaan.

Serbuan hedonisme, materialisme, dan kebudayaan yang massif atas nilai-nilai moral dan agama adalah sesuatu yang sesungguhnya sangat mengkhawatirkan bagi tumbuhnya generasi muda yang diharapkan akan membawa negeri ini mencapai peradaban tertinggi. Demikian juga masalah kemiskinan yang belum beranjak pergi, menjadikan persoalan anak belum surut. Dalam situasi kemiskinan, perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling menderita. Tingkat kesejahteraan mereka menurun, yang berarti hak-hak mereka sebagai anak kurang terlindungi.

Gambaran suram

Data berikut memberikan gambaran bagaimana masih buramnya dunia anak diIndonesia. Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), kondisi kesehatan dan gizi adalah; (a). angka kematian bayi, tahun 2002/2003 sebesar 35/1000 atau terdapat 35 bayi yang meninggal di antara 1000 bayi yang dilahirkan, atau berarti setiap hari ada 430 kematian bayi di Indonesia; (b). kematian balita, sebesar 46/1000 atau setiap hari ada 566 kematian balita; (c). status gizi, pada tahun 2005 jumlah anak kurang gizi sekitar 5 juta dan anak gizi buruk sekitar 1,5 juta, dan 150.000 anak menderita gizi buruk tingkat berat (marasmus-kwasiorkor). Jumlah anak yang meninggal akibat gizi buruk tersebut mencapai 286 anak; (d). air susu ibu (ASI) eksklusif, yakni ibu yang menyusui bayi di atas 4 bulan mengalami penurunan dari 65,1 % pada Susenas 1998 menjadi 49,2% pada Susenas 2001.

Dalam sektor pendidikan; (a).angka partisipasi sekolah, tahun 2004 untuk anak usia 13-15 tahun sebesar 83,4 % sedangkan untuk anak usia 16-18 tahun sebesar 53,4 %; (b). angka mengulang kelas, data tahun 2004/2005 menunjukkan persentase sebesar 5,4 % untuk anak usia SD dan 0,44 % untuk SMP/Mts; (c). angka putus sekolah, tahun 2005/2006 menunjukkan sebesar 2,96 % untuk SD/MI dan 1,6 % untuk SMP/MTs; (d). angka melanjutkan sekolah, tahun 2005/2006 mencatat hanya 72,5 % anak yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP/MTs.

Aspek perlindungan anak lebih memprihatinkan; (a). anak tanpa akte kelahiran, berdasarkan hasil Susenas 2001 angkanya mencapai 60 % atau anak yang sudah memiliki akte kelahiran baru mencapai 40%; (b). anak korban kekerasan dan perlakuan salah, menurut laporan kepolisian pada tahun 2002 tercatat 239 kasus dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 326 kasus; (c). anak jalanan, diperkirakan secara nasional mencapai 60.000-75.000 dan menurut Departemen Sosial 60 % di antaranya putus sekolah; (d) anak yang berkonflik dengan hukum, setiap tahun terdapat lebih dari 4.000 perkara pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia 16 tahun. Data lainnya menyebutkan hingga tahun 2002 terdapat 3.722 anak yang menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan.

Lebih mengerikan, data di Badan Narkotika Nasional menyebutkan anak korban penyalahgunaan narkoba, 70 % dari 4 juta pengguna narkoba adalah anak berusia 4-20 tahun atau sekitar 4 % dari seluruh pelajar yang ada. Sedangkan kasus AIDS/HIV, hingga Desember 2005 terdapat 4.243 kasus HIV, dan 5.320 kasus AIDS. Dari jumlah tersebut 438 kasus terjadi pada anak usia 0-19 tahun. Sementara korban kerja paksa, trafficking, pelacuran anak, dan anak-anak di pengungsian belum tersedia data yang memadai. Tetapi diyakini, jumlahnya mencapai ribuan anak.

Rencana aksi

Data di atas sangat jelas menugaskan kepada kita untuk menyelamatkan anak dari berbagai kondisi yang tidak menguntungkan. Dari segi perundang-undangan sesungguhnya telah cukup memadai. Kecuali telah meratifikasi Konvensi Hak-hak Anak Internasional, Indonesia juga telah memiliki Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Tetapi payung hukum itu rupanya belum cukup efektif membebaskan anak-anakIndonesiadari berbagai masalah fundamental.

Oleh karenanya, sejumlah langkah konkret masih perlu segera dilakukan. Pertama, pencerahan terhadap masyarakat akan pentingnya perlindungan anak melalui sosialisasi berkelanjutan tentang ketentuan perundang-undangan yang berlaku, utamanya pengetahuan tentang hak-hak anak yang harus diperoleh.

Kedua, mendorong aparat hukum untuk melakukan langkah aktif intensif bahkan ofensif dalam pembasmian segala bentuk eksploitasi dan kejahatan terhadap anak-anak. Hukuman yang berat harus dijatuhkan kepada mereka yang mengeksploitasi dan merusak masa depan anak utamanya menyakut pelibatan anak dalam perdagangan narkoba, trafficking, pelacuran anak, serta tindakan sejenisnya.

Ketiga, menciptakan model pendidikan alternatif bagi anak-anak bermasalah, serta penyadaran hak-hak anak melalui kurikulum integrated dalam proses belajar mengajar pada lembaga-lembaga pendidikan.

Keempat, menjadikan perlindungan anak sebagai sebuah gerakan, yang melibatkan seluruh unsur dan potensi masyarakat baik lembaga pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, dunia usaha, mediamassa, dan jaringan internasional.

Langkah-langkah tersebut dirangkum dalam sebuah rencana aksi, yang dipimpin langsung oleh pemerintah melalui instansi terkait maupun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang berdasarkan UU No23/2002 ditugaskan untuk mengawal penyelenggaraan perlindungan anak Indonesia. Mengingat berat dan mendesaknya persoalan, kiranya rencana aksi itu sebuah keniscayaan yang tak bisa ditunda lagi pelaksanaannya dan tanpa diskusi.

Kisah Anak-anak di Sebuah Pelosok Desa (Menjadi Janda Saat Kelas 5 SD)

Sebenarnya cukup terlambat saya mengeluarkan tulisan ini, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Demi melihat wajah-wajah polos mereka.

Setiap tanggal 23 Juli, bangsaIndonesiamemperingati Hari Anak Nasional. Terlepas dari perayaan yang biasanya diisi aneka lomba, ingatan saya terusik pada nasib anak-anak di desa terpencil. Kira-kira satu tahun yang lalu saya mengikuti kerja sosial mengajari baca, tulis, hitung (calistung) di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

Saat mendengar kata Rembang di sebut, benak saya langsung teringat pada sosok Kartini yang begitu bersahaja. Tapi kenapa masih ada desa di Rembang yang hampir seluruh penduduknya tidak mengenal calistung. Benar-benar ironis memang.

Saat itu Ibu asuh saya (sebutan kepada tuan rumah tempat saya homestay) mendapat undangan pernikahan. Ternyata mempelai perempuannya masih seumur jagung, saya sebut begitu karena saat kami bertandang si mempelai perempuan masih lari-larian bermain petak umpet dengan teman-temannya yang lain. Saya cuma bisa bengong tanpa komentar karena kira-kira usianya tidak lebih dari 10 tahun. Dan mempelai prianya kira-kira berumur 20 tahun. Beradapkah ini?? Saya tidak bisa membayangkan seorang anak berusia 10 tahun harus mulai membina sebuah rumah tangga. Saya yang sudah berumur 20 tahun lebih saja belum berpikir ke arahsanasama sekali. Bagaimana bisa seorang anak dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya?

Saat saya mendapat tugas membantu mengajar ketrampilan di SD setempat, melihat wajah-wajah polos anak-anak disanahati kecil saya menangis. Usia mereka adalah usia untuk bermain dan menuntut ilmu. Tapi kultur setempat telah memaksa mereka untuk menjalani takdir sesuai tuntutan sosial yang ada. Status sebagai seorang janda atau duda lebih dihargai dari pada berstatus lajang saat mereka berusia 17 tahun.

Anak-anakSDkelas 1 telah banyak yang di panjer orang (panjer adalah istilah untuk gadis yang sudah dilamar orang dengan jaminan sapi atau kerbau). Bahkan ada seorang anak yang baru meginjak usia 1 tahun sudah dipesan/dipanjer orang. Saya merasakan anak seperti bahan dagangan saja, dan mereka hanya dihargai beberapa ekor sapi atau kerbau saja. Maka saat seorang anak mulai mendapatkan menstruasi pertamanya maka mulai ucapkan “selamat tinggal bangku sekolah” dan “selamat datang kehidupan berumah tangga”. Saat saya mendapati seorang anak kelas 5 SD sudah berstatus janda, saya bengong untuk kesekian kalinya. Dan ternyata itu merupakan hal yang snagat biasa disana.

Gedung sekolah yang seharusnya ramai oleh teriakan anak-anak yang sedang menuntut ilmu terasa hampa di hadapan saya. Saat saya menatap mata anak-anak disanayang begitu polos, dada saya semakin sesak. Mereka seperti tak punya mimpi, karena mimpi merupakan hal yang mewah. Ternyata masih ada juga bagian dariIndonesiayang seperti ini.

Adacerita dari seorang warga belajar saya, yang bercerita sambil menangis menyesali nasib. Kira-kira dia seumuran dengan saya, dulu saat menikah dia dipaksa oleh orang tuanya. Dia tidak mau menikah karena calon suaminya sudah tua, dua kali lipat umurnya. Saat itu dia baru berumur 15 tahun, dia akhirnya memilih melarikan diri untuk menghindari pernikahan. Tapi ternyata keluarganya berhasil menemukannya dan menyeretnya kembali ke rumah, menyiksanya sebagai pelajaran karena dia telah menentang keluarga dan memaksanya melangsungkan pernikahan dengan pria pilihan keluarganya. Dia merasa bahwa dia tidak punya hak untuk menentukan pilihan hidupnya. Semua sudah ditentukan dan harus dijalankan

Perempuan lainnya yang hanya bisa pasrah pada nasib saat saya tanya apakah cinta dengan suaminya yang sekarang berkata “Mbak, tesno niku jalaran soko kulino”. Waduh, jawaban klise banget khas wanita jawa tempo doloe.

Maka saat saya membaca berita tentang peringatan Hari Anak Nasional, saya hanya tersenyum miris mengingat nasib mereka. Masih jelas terekam dalam benak saya tatapan polos mereka, keingintahuan mereka tentang dunia luar dan semangat mereka untuk belajar.

Satu episode dalam hidup saya itu cukup mengajari saya untuk terus bersyukur dengan kehidupan yang saya jalani sekarang, kebebasan yang saya dapatkan, keluarga yang demokratis dan semua fasilitas yang dapat saya nikmati. Saya merasa sangat beruntung. Anak paling berntung di dunia. Saya akan selalu menganggap diri saya seorang anak, bukan karena saya takut untuk menjadi dewasa karena dewasa adalah sebuah pilihan, tapi lebih karena saya ingin selalu menikmati dunia dari sudut pandang seorang anak yang selalu merasa ingin tahu dengan segala sesuatu hal baru.

Adasatu percakan kecil dengan warga belajar saya dan seorang teman (namanya mas Sigit) saat baru selesai kegitan belajar bersama pada suatu malam. Selamanya akan selalu saya ingat tiap kata dalam percakapan itu, karena cukup bikin saya sakit hati sekaligus tersenyum geli. Berikut percakapan tersebut setelah saya translet ke dalam bahasa Indonesia yang sama sekali tidak baik dan benar.

Warga : Mbak Ninok ini sekarang umurnya berapa ya?

Saya : baru 22 tahun Bu, memangnya kenapa?

Warga : Orang tuanya ga bingung apa koq sudah umur segitu belum nikah?

Saya : Lha, kenapa mesti bingung? (tanya saya tanpa ada prasangka apapun)

Warga : Kalau disini mbak ninok ini sudah dianggap perawan tua dan ga laku. Ga mungkin ada yang mau lagi. Kalaupun sudah menikah pasti sudah punya anak kira-kira 2 oranglah.

Saya : Tertawa miris sambil mengumpat dalam hati (Sialan aku dibilang perawan tua ga laku!)

Warga : Lha kalau mas Sigit (teman saya) berapa usianya?

Mas Sigit : Saya 25 Bu…

Warga : Whaladalah, kalau seumuran mas Sigit ini di sini dah punya cucu lho…

Mas Sigit : Hanya bisa tersenyum miris juga…

Akhirnya karena obrolan mulai mengarah ga enak, cepat-cepat saya mohon diri kepada tuan rumah. Dalam perjalanan pulang saya dan teman saya hanya bisa diam larut dalam pikiran masing-masing. Tapi saya tiba-tiba tersenyum karena jadi keingat dengan beberapa teman saya yang sudah berusia cukup matang tapi tak juga menikah. Nah lo, bakalan dikatain apa ya mereka kalau ada di sini.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s